Singkarak, Riang dan Sendunya

Rp90,000

+ Free Shipping

Penulis: Ragdi F. Daye

Sampul: Madil R. Fernando
Penata Letak: Zahra Nurul Aulia
Ukuran: 13.5 x 20.5, cm
Halaman: viii + 219, H
Penerbit: Rumahkayu Pustaka

ISBN:
Cetakan, November 2025

Category:

Tempat yang indah, pada hakikatnya selalu menyembunyikan paradoks. Ia bisa membuat hati bergetar antara gembira dan pilu; menyalakan harapan, sekaligus rindu yang sukar dipadamkan. Di sanalah kita sering terperangkap antara tawa yang berbunga dan sepi yang mengendap di dalam dada, seperti luka yang manis, seperti bahagia yang tak utuh.

Begitulah Solok bagi saya, yang dalam buku ini diwakili oleh Singkarak, danau luas yang menampung langit dan segala rahasia di kedalamannya. Riaknya membentang di sepanjang jalur Lintas Sumatra, berpayung pegunungan Bukit Barisan yang senantiasa biru di kejauhan. Siapa pun yang memandang hampar airnya, atau sawah-sawah hijau yang berbaris di pinggirnya, akan disergap oleh sesuatu yang tak terkatakan: kerinduan pada rumah, wajah-wajah yang dulu akrab, atau sekadar bayang-bayang masa kecil yang enggan pergi.

Sastra, dalam bentuk cerpen-cerpen di buku ini, adalah cermin dari tempat-tempat semacam itu. Ia memantulkan hidup sebagaimana danau memantulkan langit: kadang jernih, kadang keruh; kadang memantulkan pohon dan awan, kadang hanya daun kering yang terapung dalam diam. Di permukaannya, kita melihat serpih kenangan, peristiwa, rasa haru, bahkan amarah yang kita kira telah lama padam.

Cerita-cerita ini tentu bukan kronik yang benar-benar terjadi. Mereka hanyalah refleksi dari realitas yang sempat menyinggahi pandangan, lalu saya jalin dengan benang imajinasi dan cara pandang pribadi. Hal-hal yang universal itu saya bawa pulang ke ruang personal, agar lebih hangat, lebih hidup, seperti nadi yang berdetak di bawah jangat.

Saya tidak bermaksud berkhutbah atau menggurui. Sastra, bagi saya, hanyalah bisikan lirih ke dalam hati: kadang menyalakan getar kecil, kadang menggores luka tipis yang diam-diam perih. Ia bisa menyusupkan kehangatan, bisa pula menjelma sepotong kaca bening yang memantulkan diri kita sendiri. Namun di situlah daya magisnya, membangkitkan rasa yang tak bisa dijelaskan, hanya bisa dirasakan.

Buku ini saya persembahkan untuk Solok, negeri elok di jantung Sumatera Barat, yang kata seorang teman, pesonanya menyerupai sekeping surga yang jatuh ke bumi. Saya berutang kepadanya: pada lanskapnya yang murung dan megah, pada bahasa yang tumbuh di lidah penduduknya, pada imaji dan ingatan yang tak pernah selesai saya tuliskan. Juga pada kekeraskepalaan romantik khas Kubuang Tigo Baleh yang selalu menyelinap dalam setiap kalimat saya.

Beberapa cerpen di dalam buku ini sebelumnya telah dimuat dalam buku kumpulan cerpen saya, Perempuan Bawang dan Lelaki Kayu, Rumah yang Menggigil, serta sejumlah antologi lain. Saya rangkum kembali di sini sebagai bentuk memorabilia kecil pada kampung halaman, pada tubuh masa lalu, dan pada segala yang telah membentuk saya menjadi penulis hari ini. Selamat membaca. []

Reviews

There are no reviews yet.

Be the first to review “Singkarak, Riang dan Sendunya”

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Keranjang Belanja