Sejak awal, kami meyakini bahwa pengetahuan lokal bukan sekadar jejak masa lalu, melainkan pusaka kolektif yang masih relevan dalam menghadapi ancaman bencana hari ini. Sumatra Barat adalah ruang geografis yang akrab dengan guncangan, banjir bandang, letusan gunung api, dan tsunami. Namun di balik luka sejarah, selalu ada ikhtiar masyarakat untuk bertahan dan beradaptasi. Dari situlah lahir berbagai kearifan: pepatah yang mewanti-wanti kesiapsiagaan, ritual adat untuk menjaga harmoni, hingga arsitektur rumah gadang dan uma Mentawai yang adaptif dengan guncangan.
Buku ini membahas empat kabupaten, yang mewakili dua poros besar budaya: Minangkabau dan Mentawai. Di Tanah Datar, kami mendengar kisah tentang rumah gadang sebagai benteng keluarga sekaligus simbol keseimbangan dengan alam, ritus-ritus yang dilapalkan demi harmonisasi dengan alam. Di Agam, kami menelusuri memori bencana di Maninjau dan Tiku, menemukan bagaimana masyarakat menafsir tanda-tanda alam melalui doa, syair, dan larangan adat. Di Limapuluh Kota, kami menyimak dengan seksama muasal nama nagari (toponimi) Maek, Taram, dan Talang Anau, dan sebuah strategi langkah mitigasi yang berpadu dengan tanda alam, dengungan batu purba, doa dan ritual. Sementara di Kepulauan Mentawai, kami menyaksikan langsung bagaimana Arat Sabulungan, sistem kepercayaan tradisional menyimpan banyak pesan kebencanaan, dari tabu hingga ritual sikerei, serta pengetahuan membaca tanda alam yang diwariskan turun-temurun.
Perjalanan lapangan ini tidak selalu mulus. Dinamika dan tantangan kerap kami hadapi. Medan yang berat di pedalaman, keterbatasan akses transportasi menuju desa-desa di Mentawai, hingga kendala komunikasi antar generasi tentang tradisi yang mulai tergerus modernisasi, menjadi bagian dari pengalaman riset ini. Namun justru dari tantangan itu kami menemukan satu hal penting: pengetahuan lokal tidak pernah benar-benar hilang. Ia tersimpan dalam pepatah-petitih dan syair yang masih dilantunkan tetua, dalam doa yang masih dibisikkan di ladang, dalam tabu yang masih ditaati di hutan larangan, dan dalam toponimi yang merekam jejak bencana.
Apa yang kami temukan adalah mosaik yang berharga: ingatan yang berserak namun tetap hidup, meski kerap terabaikan oleh pendekatan modern. Pengetahuan lokal itu bukan hanya cerita tentang masa lalu, tetapi juga “pagar diri” bagi masyarakat menghadapi masa depan. Di saat sains modern merancang sistem peringatan dini, masyarakat adat sudah lama punya alarm tradisional: mendengar gemuruh di hulu sungai, mengamati arah angin, membaca pola awan, atau memaknai tanda di laut.
Kami berharap buku ini dapat memperkuat upaya mitigasi kultural di Sumatra Barat. Bahwa bencana bukan semata peristiwa alam, melainkan ruang belajar. Bahwa ingatan yang dirawat akan melahirkan ketangguhan, dan kearifan yang dipelihara akan menuntun generasi mendatang untuk hidup lebih selaras dengan lingkungannya.
Akhir kata, izinkan kami menyampaikan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah memberikan dukungan penuh, sehingga penerbitan buku ini dapat terlaksana. Ucapan terima kasih juga kami sampaikan kepada para tetua adat, sikerei, alim ulama, budayawan, akademisi, serta masyarakat di Tanah Datar, Agam, Limapuluh Kota, dan Kepulauan Mentawai, yang telah berbagi pengetahuan dan membuka pintu rumahnya untuk kami.
Semoga buku ini memberi manfaat, memperkaya khazanah kebudayaan, sekaligus menjadi sumbangan kecil untuk membangun Sumatra Barat yang tangguh menghadapi bencana.
Padang, September 2025
Penulis





Reviews
There are no reviews yet.