Muslim etnis Tionghoa di Sumatera Barat mempunyai sejarah panjang dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Telah terjadi proses pembauran dalam berbagai aspek kehidupan seperti penyesuaian dengan lingkungan alam, sistem ekonomi, budaya dan agama. Pembauran kehidupan secara sosial bagi etnis pendatang mempunyai hubungan yang kuat dalam berbagai variabel dalam perspektif teori fungsional dan struktural. Dalam bidang agama keberadaannya telah ikut mewarnai dan bersinergi dalam kegiatan keagamaan dengan menjunjung tinggi prinsip moderasi beragama.
Moderasi beragama adalah sikap atau pandangan moderat terhadap keberagamaan sebagai cara untuk mengakomodasi beranekaragamnya agama yang ada di Indonesia (Busyro, Aditya & Adlan, 2019). Islam sebagai agama untuk seluruh umat manusia mengandung pesan tentang kehidupan yang tidak diperuntukkan kepada golongan atau kelompok tertentu. Islam menawarkan konsep yang bijaksana dalam memahami realitas masyarakat yang sifatnya amar ma’ruf dan mencegah kemungkaran dengan memperhatikan keadaan manusia berserta sifat dan karakternya. Orang Islam di Indonesia lebih memilih sikap moderat ketimbang sikap yang ekstrim. Oleh karena itu, muslim Indonesia, baik secara individu maupun kolektif akan selalu bersikap moderat (Tahqiq, 2011).
Oleh karena itu, Islam sebagai agama yang terbuka, dialogis, dan manusiawi dapat mewujudkan tatanan kehidupan keberagamaan yang arif. Selanjutnya, hubungan antara masyarakat Sumatera Barat dengan kaum pendatang etnis Tionghoa sudah berlangsung sejak masa kerajaan dan saat itu tempat asal etnis Tionghoa masih berupa kekaisaran. Pada saat itu, mereka adalah saudagar yang memeluk agama Islam yang terlebih dahulu tersebar di Tiongkok daripada di Indonesia termasuk di Sumatera Barat, sehingga di samping berdagang dengan warga, mereka juga menyebarkan atau berdakwah agama Islam pada penduduk setempat yang masih memeluk agama lokal.
Kedatangan etnis Tionghoa ini sama sekali tidak ada minat untuk tinggal dan menguasai atau menjajah, semata-mata hanya untuk berdagang, sehingga mereka bisa diterima oleh masyarakat setempat dengan baik. Hubungan harmonis ini akhirnya berlanjut dengan adanya orang-orang Tionghoa yang pada tahun-tahun selanjutnya tinggal lebih lama bahkan berdomisili dan berasimilasi di Sumatera Barat.
Pada bidang keagamaan, masyarakat etnis Tionghoa tidak lagi dapat didefinisikan semata-mata sebagai penganut Confusian, Taoisme, dan Budhisme. Agama-agama besar seperti Katholik, Protestan dan bahkan Islam telah menduduki posisi penting sebagai pertimbangan dan perimbangan agama dan kepercayaan kaum Tionghoa. Hal ini bisa saja dianggap sebagai cermin penyimpangan kultural yang penting. Sebab dalam gambaran agama Confusian klasik perbedaan kultural antara agama samawi dengan Confusionisme sangatlah besar.
Proses masuk Islamnya orang-orang Tionghoa di Sumatera Barat dan konsep keberagamaannya yang terjadi bukan semata-mata asimilasi sosial budaya, tetapi lebih kepada asimilasi agama. Terutama banyaknya etnis Tionghoa yang memeluk Islam, dan maraknya gerakan moderasi beragama (secara internal) yang mereka lakukan dengan akulturasi dan pembauran pada segala lini kehidupan. Gerakan ini tentu saja merupakan proses asimilasi kultural antara tradisi Islam lokal (Minangkabau-Sumatera Barat) dengan kultur atau tradisi orang-orang Tionghoa Sumatera Barat.
Kehadiran lembaga keagamaan di Sumatera Barat memberikan peluang yang cukup besar bagi organisasi atau lembaga pembinaan bagi muslim Tionghoa di Sumatera Barat sebagai salah satu organisasi yang bisa menjadi jembatan solusi yang diharapkan mampu menjawab tantangan dalam kehidupan beragama yang ada ditengah perbedaan budaya, dan etnis.
Pembinaan tersebut bertujuan menegakkan nilai-nilai ajaran Islam bagi muslim Tionghoa di Sumatera Barat demi tercapai suatu cita-cita masyarakat aman, adil, dan makmur yang diridhai Allah Swt. Realitas kehidupan keagamaan yang berupa gerakan dakwah bagi etnis Tionghoa menjadi penting di Sumatera Barat. Meskipun bagi masyarakat Islam secara umum belum memiliki konsep yang paling tepat bagi kehidupan beragama dikalangan etnis Tionghoa di Sumatera Barat.
Buku ini mengupas tentang akulturasi dalam ritual keagamaan bagi muslim minoritas etnis Tionghoa di Sumatera Barat. Kehadiran buku ini diharapkan dapat memperkaya informasi tentang eksistensi komunitas muslim etnis Tionghoa dalam kehidupan beragama di satu sisi, dan mempertahankan budaya leluhur mereka pada sisi yang lain. Terakhir, kritik dan saran yang konstruktif sangat diharapkan untuk perbaikan buku ini, terima kasih.
Wassalam
Penulis





Reviews
There are no reviews yet.